“Gw ngga paham kenapa tim gw itu kalo kerja selalu males-malesan”
“Kamu tuh kenapa sih harus Saya suruh baru dikerjain?”
“Mereka tuh kalo kerja ya seselesainya aja, ngga peduli hasilnya gimana”
Mungkin kita sering dengar beberapa komentar diatas, atau bahkan beberapa kalimat diatas keluar dari mulut kita sendiri?
Pembahasan mengenai motivasi memang tidak ada habisnya. Semua orang tahu kalau motivasi dalam bekerja itu penting, karena Seseorang dengan motivasi bekerja yang tinggi, cenderung akan menghasilkan kinerja yang baik. Hal ini dikarenakan kemauan (motivasi) apabila dikolaborasikan dengan kemampuan akan menjadi perpaduan yang sempurna untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Namum demikian komentar, keluhan, dan celotehan terkait bagaimana kurangnya motivasi seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan merupakan sesuatu yang tidak asing didengar.
Mengapa hal ini terjadi? Salah satu alasan utama adalah kita mengukur sumbr motivasi orang lain sama dengan kita mengukur motivasi kita sendiri. Setiap orang memiliki “sumber api” yang berbeda-beda, sehingga tidak mungkin kita mengharapkan orang lain untuk sama dengan kita. Salah satu kalimat yang sering terdengar terkait hal ini adalah “Gw bingung deh. Dulu waktu gw muda, gw kayanya kerja ga males banget kaya mereka sekarang”. Dulu dan sekarang jelas beda. Siapanya juga berbeda. Kunci utama dalam mengelola motivasi adalah tidak mengukur motivasi orang lain seperti kita mengukur motivasi kita.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat kami sharing-kan terkait dengan bagaimana mengelola motivasi tim kita:
- No Silver Bullet. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, setiap orang memiliki sumber motivasi yang berbeda-beda. Ada yang termotivasi dengan uang, ada yang termotivasi karena keluarga, ada yang termotivasi dengan karir, ada juga yang termotivasi dengan kestablian (status quo), dan sebagainya. Hal ini membuat kita tidak bisa memukul rata kalau semua orang akan termotivasi dengan hal yang sama. Apa yang berhasil untuk kita belum tentu berhasil untuk anggota tim kita. Kelolalah motivasi tim kita dengan beragam macam cara. Jangan pernah puas dengan satu jenis program motivasi.
- Emotional VS. Transactional. Fokus kepada emotional trigger & benefit. Sesuatu yang sifatnya transaksional seperti uang, bonus, atau hal lain yang sifatnya sementara, tidak akan bertahan lama. Sesuatu yang sifatnya finansial bukannya tidak penting, tetapi biasanya efeknya akan cepat pudar. Manusia tidak akan pernah puas untuk sesuatu yang sifatnya materi. Carilah sesuatu yang menyentuh di aspek emosional, meskipun hal ini tidak mudah karena usaha yang harus kita keluarkan lebih besar. Beberapa contoh aspek emosional adalah fokus kepada kontribusi kepada perusahaan, bukan hanya jabatan; fokus kepada kontribusi sosial dan negara, bukan hanya untung rugi; fokus kepada menyenangkan orang tua, bukan hanya mendapat bonus; dan sebagainya.
- Maintaining Hygiene. Hal yang sering dilupakan dalam mengelola motivasi adalah fokus kepada sesuatu yang “mewah”. Kunci utama agar motivasi yang rendah tidak berubah menjadi sesuatu yang desktruktif adalah memastikan semua yang hygiene (standard) dilakukan dengan baik oleh perusahaan. Jangan pernah menunda sesuatu yang menjadi hak dari anggota tim kita. Apabila itu tertunda (atau tidak didapatkan), maka semua hal lain yang kita lakukan hanya akan dianggap omong kosong.
Mengelola motivasi adalah sebuah seni. Tidak ada rumus pasti. Semua tergantung kepada individu dan situasi. Dan yang pasti, semua harus dimulai dari diri sendiri. Kita harus paham bagaimana memotivasi diri kita sendiri sebelum kita mengelola motivasi tim kita dan orang lain.
Kami sangat terbuka apabila ada yang ingin didiskusikan lebih detail terkait dengan topik diatas, silakan hubungi kami di hello@klique.id. Let us discuss over coffee. Out treat!

